BAB II
SEKILAS TENTANG TUBERKULOSIS
A. Pengertian Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang ditularkan secara langsung dari seorang penderita Tuberkulosis menular kepada orang lain yang sehat
dan disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Penularan kuman TB umumnya menyerang organ
paru melalui percikan dahak penderita, dan selanjutnya dapat juga mengenai
organ tubuh lainnya.[1]
Pada kondisi
daya tahan tubuh penderita menurun misalnya pada kondisi Gizi yang tidak memadai,
pada penderita Diabitus Mellitus, pada perokok berat maka penyakit tuberkulosis
akan menyebar secara sistemik atau melalui saluran getah bening dan dapat
menyebar hampir semua organ tubuh, dengan persentase lokasi terbanyak di organ paru
yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer Tuberkulosis.[2]
B. Sejarah
Perkembangan penemuan penyakit Tuberkulosis
Penyakit TB sudah ada sejak zaman purbakala. Hal ini
dibuktikan melalui penemuan arkeologis Mesir, yang menemukan sisa tulang
belakang manusia dengan tanda spondylitis-tubercolosa (jenis penyakit
Tuberkulosis yang merusak kerangka tulang belakang) pada tahun 3700 SM dan pada
mumi tahun 1000 SM dengan ciri penyakit yang sama. Pada waktu itu, Hippocrates
berpendapat bahwa penyakit Tuberkulosis adalah penyakit keturunan. Selanjutnya
Claudius Galenus ( AD 129 – 200 ) seorang dokter di zaman Romawi berpendirian
bahwa TB adalah penyakit menular. Selama 15 abad kedua paham ini dianut
berbagai ahli kedokteran.
Jean Antoine Villamin (28 Januari, 1827 – 6 Oktober 1892) seorang dokter,
kelahiran Prey, Vosges, berkebangsaan Perancis pertama kali membuktikan secara
ilmiah bahwa Tuberkulosis adalah penyakit menular namun pada waktu itu masih
belum diketahui penyebabnya.
Robert Koch seorang ahli Bakteriologis Modern; berkebangsaan
Jerman, pada tanggal 24 Maret 1882 menemukan basil yang disebut sebagai
Mycobacterium Tuberkulosis dan termasuk penemu Vibrio Cholera dan Antrax. Hasil
penemuaan yang terkenal sebagai ,,Postulat Koch’’ yang sampai sekarang menjadi
dasar dalam penetapan diagnosis berdasarkan pendekatan mikrobiologis.
RenĂª Laennec seorang Dokter di Perancis, tahun 1819
menemukan stetoscop menjadikan pemeriksaan fisik hal penting dalam
diagnosa klinis TB, hampir 70 tahun sebelum penemuan penyebab penyakit Tuberkulosis
ditemukan oleh Robert Koch.
Wilhelhm Rontgen seorang ahli Fisika dari Jerman, pada
tahun 1895 menemukan sinar X sehingga makin melengkapi diagnosis TB.
Clemens Von Pirquet seorang berkebangsaan Ausria, tahun
1907 menunjukkan sarana diagnosis lain TB dengan uji tuberkulin. Penemuan Clemens
Von Pirquet ini disempurnakan oleh Mantoux dan tekniknya distandarkan kemudian
disebarluaskan, uji ini dikenal dengan nama Mantoux. Permulaan abad ke-20 semua
sarana diagnosis TB sudah tersedia lengkap dan dipakai terus hingga sekarang.
Penemuan sarana diagnosis baru untuk TB lebih ditekankan untuk diagnosis yang
lebih cepat dan dapat dilakukan sendiri oleh dokter tanpa perlu tenaga ahli
lain.[3]
C. Epidemologi Tuberkulosis
Walaupun
pengobatan Tuberkulosis yang efektif sudah tersedia, tapi sampai saat ini TB
masih tetap menjadi problem kesehatan dunia yang utama. Pada bulan Maret 1993
WHO mendeklarasikan penyakit Tuberkulosis sebagai global health emergency.
Penyakit Tuberkulosis dianggap sebagai masalah penting karena lebih kurang 1/3
penduduk dunia terinfeksi oleh mikobakterium Tuberkulosis.
Pada tahun 1998
ada 3.617.047 kasus TB yang tercatat diseluruh dunia. Sebagian besar dari kasus
TB ini (95%) dan kematiannya (98%) terjadi di negara-negara yang sedang
berkembang. Di antara mereka 75% berada pada usia produktif yaitu 20-49 tahun.
Karena penduduk yang padat dan tingginya prevalensi maka lebih dari 65%
kasus-kasus TB baru dan kematian yang muncul di Asia.[4]
Alasan utama
yang muncul atau meningkatnya penyakit TB global ini disebabkan: 1) Kemiskinan
pada berbagai penduduk, 2) Meningkatnya penduduk dunia, 3) Perlindungan
kesehatan yang tidak mencukupi, 4) Tidak memadainya pendidikan mengenai
penyakit TB, dan 5) Terlantar dan kurangnya biaya pendidikan.
Indonesia sekarang
berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi
prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan estimasi
insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB
diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya.[5]
D. Kuman dan Penularan Tuberkulosis
1. Kuman Tuberkulosis
Kuman tuberkulosis (mycobacterium tuberculosis) berbentuk batang,
mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena
itu disebut pula sebagai basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan
sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat
yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama
beberapa tahun.[6]
2. Penularan TB
a. Cara
Penularan
Sumber penularan TB adalah penderita TB BTA Positif. Pada waktu bersin atau
batuk, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan
dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar
selama beberapa jam.
Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup ke saluran
pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran
pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya,
melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dari organ parunya. Makin tinggi derajat
positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut.
Faktor yang
memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan
dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.[7]
b. Risiko
Penularan
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan
dahak. Pasien TB paru
dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien
TB paru dengan BTA negatif.
Risiko penularan setiap tahunnya
di tunjukkan dengan
Annual Risk of Tuberculosis
Infection (ARTI) yaitu proporsi
penduduk yang berisiko terinfeksi
TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk
terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan
dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.[8]
c. Risiko menjadi sakit TB
Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan
menjadi sakit TB. Dengan ARTI
1%,
diperkirakan
diantara
100.000
penduduk
rata-rata
terjadi
1000
terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi
sakit TB setiap tahun.
Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya
infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). Dan HIV merupakan faktor
risiko yang paling
kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan
kerusakan
luas
sistem
daya
tahan
tubuh
seluler
(Cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi
oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan
kematian. Bila jumlah orang terinfeksi
HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan
meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.[9] Faktor risiko kejadian TB, secara ringkas digambarkan pada gambar berikut:
E. Riwayat terjadinya Tuberkulosis.
1.
Infeksi
Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama
kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga
dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan
sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB
berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang
mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuman TB ke
kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer.
Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 - 6
minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin
dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman
yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada
umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman
TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister
atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan
perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan
menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan
mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.
2.
Tuberkulosis
Pasca Primer (Post Primary TB)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah
beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan
tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari
tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya
kavitas atau efusi pleura.
3.
Gejala-Gejala Tuberkulosis
a. Gejala utama
Gejala utama
pada TB adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih.
b. Gejala tambahan
Gejala tambahan
yang sering dijumpai pada penderita TBC adalah : dahak bercampur darah, batuk
darah, sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat
badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun
tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.[10]
F. Pencegahan Tuberkulosis
Karena yang menjadi sumber penyebaran TB adalah
penderita TB itu sendiri, pengontrolan efektif TB mengurangi pasien TB
tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TB saat
ini, yaitu terapi dan imunisasi.
1. Terapi
WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TB jangka
pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly
Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy).
Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu
mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung.
Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena
pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TB berikutnya.
Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TB. Orang ini
kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TB atau tidak.
Sampai saat ini, diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop.
Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik, sedangkan diagnosa secara molekular
seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan.
Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TB, dokter
akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien
tersebut. Adapun obat TB yang biasanya digunakan adalah isoniazid,
rifampicin, pyrazinamide, streptomycin, dan ethambutol. Untuk menghindari
munculnya bakteri TB yang resisten, biasanya diberikan obat yang terdiri dari
kombinasi 3-4 macam obat ini.
Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses
peminuman obat serta perkembangan pasien. Ini sangat penting karena ada
kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. Setelah
minum obat TB biasanya gejala TB bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. Walaupun
demikian, untuk benar-benar sembuh dari TB diharuskan untuk mengkonsumsi obat
minimal selama 6 bulan. Efek negatif yang muncul jika kita berhenti minum obat
adalah munculnya kuman TB yang resisten terhadap obat. Jika ini terjadi, dan
kuman tersebut menyebar, pengendalian TB akan semakin sulit dilaksanakan.
DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk
menangani pasien TB saat ini, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95
persen. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah
menerima perlakuan DOTS ini. Di Indonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada tahun
1995 dengan tingkat kesembuhan 87 persen pada tahun 2000. Angka ini melebihi
target WHO, yaitu 85 persen, tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi
kasus baru di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data WHO, untuk tahun 2001,
tingkat deteksi hanya 21 persen, jauh di bawah target WHO, 70 persen. Karena
itu, usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi.
2. Imunisasi
Pengendalian penyakit Tuberkulosis yang kedua adalah dengan
pemberian imunisasi atau pengebalan. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan
aktif terhadap penyaki TB. Vaksin TB, yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari
bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Bakteri
ini menyebabkan TB pada sapi, tapi tidak pada manusia. Vaksin ini dikembangkan
pada tahun 1950 dari bakteri M tuberculosis yang hidup (live vaccine),
karenanya bisa berkembang biak di dalam tubuh dan diharapkan bisa mengindus
antibodi seumur hidup. Selain itu, pemberian dua atau tiga kali tidak
berpengaruh. Karena itu, vaksinasi BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup. Di
Indonesia, diberikan sebelum berumur dua bulan.
Imunisasi TB ini tidak sepenuhnya melindungi kita dari
serangan TB. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar antara 70-80 persen.
Karena itu, walaupun telah menerima vaksin, kita masih harus waspada terhadap
serangan TB ini. Karena efektivitas vaksin ini tidak sempurna, secara global
ada dua pendapat tentang imunisasi TB ini.
3. Langkah Pencegahan
Upaya untuk mencegah penularan tuberkulosis dapat dilakukan langkah-langkah berikut:
- Mengobati pasien
tuberkulosis paru BTA Positif sampai sembuh.
- Menganjurkan kepada
penderita agar menutup mulut dengan sapu tangan bila batuk atau bersin,
dan tidak meludah di sembarangan tempat.
- Peningkatan sosial ekonomi,
misalnya : perbaikan perumahan dan lingkungan, peningkatan status gizi dan
peningkatan pelayanan kesehatan.[11]
Sedangkan untuk mencegah terjadinya penyakit
TB dapat dilakukan dengan cara:
a. Meningkatkan status gizi
b. Memberikan pengobatan, dengan dosis yang tepat
c. Memberikan imunisasi BCG pada bayi; imunisasi BCG bertujuan untuk pemberian
kekebalan aktif terhadap tuberculosis.[12]
G. Klasifikasi Tuberkulosis dan Pengobatannya
1. Klasifikasi TB
Klasifikasi TB ada dua macam, yaitu: tuberkulosis paru dan tuberkulosis extra paru.
a. Tuberkulosis
paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk
pleura (selaput paru).
- Tuberkulosis extra paru
Tuberkulosis extra paru adalah
tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura,
selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.[13]
2. Pengobatan Tuberkulosis
Pengobatan tuberkulosis
bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan
dan menurunkan tingkat penularan.
Adapun jenis dan dosis obat yang digunakan dalam pengobatan
tuberkulosis adalah :
- Isoniasid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat
bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa hari pengobatan.
Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu
kuman yang sedang berkembang.
Dosis harian yang dianjurkan 5 mg
/ kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan
dosis 10 mg / kg BB.
- Rifampisin (R)
Obat ini bersifat bakterisid,
dapat membunuh kuman semi dormant (persinten) yang tidak dapat dibunuh oleh
isoniasid. Dosis 10 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu
diberikan dengan dosis 10 mg / kg BB.
- Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, dapat
membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang
dianjurkan 25 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu
diberikan dengan dosis 35 mg / kg BB.
- Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis yang
dianjurkan 15 mg / kg BB. Sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu
digunakan dosis yang sama. Untuk penderita sampai umur 60 tahun dosisnya 0,75
gr/hari, sedangkan untuk umur 60 tahun atau lebih diberikan 0,5 gr/hari.
- Etambutol (E)
Bersifat sebagai
bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg / kg BB, sedangkan untuk
pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg / kg BB.[14]
3. Efek Samping Minum Obat
Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
merupakan obat yang harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang
bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan pemberian OAT antara
lain:
a. Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin
melalui kegiatan bakterisid.
b. Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan
kegiatan sterilisasi.
c. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya
tahan imunologis.[15]
Seperti obat lain, obat
TB juga dapat menimbulkan efek samping. Namun, efek samping ini tidak terjadi
pada semua orang yang minum obat TB. Efek samping hanya terjadi pada sebagian
kecil pasien. Efek samping obat TB yang sering terjadi adalah alergi. Timbul
gatal dan kemerahan setelah minum obat TB. Biasanya yang menyebabkan alergi
hanya satu atau dua macam obat TB saja. Dokter dapat menelusuri obat mana yang
menimbulkan alergi. Obat tersebut dihentikan dan dapat dicoba lagi dengan dosis
rendah yang dinaikkan bertahap.
Efek samping yang juga
cukup sering adalah gangguan fungsi hati. Penanganannya hampir serupa. Obat
yang dicurigai dihentikan dulu, kemudian dimulai dosis rendah dan dinaikkan
bertahap. Jika masih timbul kelainan hati, mungkin harus diganti dengan obat
lain.[16]
Efek samping
OAT dapat dibagi menjadi efek samping ringan dan berat dengan pendekatan gejala.
Berikut tabel yang menjelaskan efek samping obat anti tuberkulosis.
Efek samping
ringan
Efek samping
|
Penyebab
|
Penatalaksanaan
|
tidak ada
nafsu makan, mual, sakit perut
|
Rifampisin
|
Semua OAT
diminum malam sebelum tidur
|
Nyeri sendi
|
Pirasinamid
|
Beri aspirin
|
Kesemuatan
s.d. rasa terbakar di kaki
|
INH
|
Beri vitamin
B6 (piridoksin) 100mg per hari
|
Warna
kemerahan pada air seni (urine)
|
Rifampisin
|
Tidak perlu
diberi apa-apa, tapi perlu penjelasan kepada pasien
|
Efek samping
berat
Efek samping
|
Penyebab
|
Penatalaksanaan
|
Gatal dan
kemerahan kulit
|
Semua jenis
OAT
|
Ikuti
petunjuk penatalaksanaan di bawah*)
|
Tuli
|
Streptomisin
|
Streptomisin
dihentikan
|
Gangguan
keseimbangan
|
Streptomisin
|
Streptomisin
dihentikan, ganti Etambutol
|
Ikterus tanpa
penyebab lain
|
Hampir semua
OAT
|
Hentikan
semua OAT sampai ikterus menghilang
|
Bingung dan
muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat)
|
Hampir semua
OAT
|
Hentikan
semua OAT, segera lakukan tes fungsi hati
|
Gangguan
penglihatan
|
Etambutol
|
Hentikan
Etambutol
|
Purpura dan
renjatan (syok)
|
Rifampisin
|
Hentikan
Rifampisin
|
Penatalaksanaan
pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”:
Jika seorang
pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu
kemungkinan penyebab lain. Berikan dulu anti-histamin, sambil meneruskan OAT
dengan pengawasan ketat.
Gatal-gatal
tersebut pada sebagian pasien menghilang, namun pada sebagian pasien malah
menjadi suatu kemerahan kulit. Bila keadaan seperti ini, hentikan semua OAT.
Tunggu sampai kemerahan tersebut menghilang. Jika gejala efek samping ini
bertambah berat, pasien perlu dirujuk.
Pada unit
pelayanan kesehatan rujukan (UPK Rujukan) penanganan kasus-kasus efek samping
obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum
diketahui, maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug
challenging” dengan menggunakan obat lepas. Hal ini dimaksudkan untuk
menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut.
- Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena
reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Untuk membedakannya,
semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai prinsip dechallenge-rechallenge.
Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengan dosis rendah
sudah timbul reaksi, berarti hepatotoksisitas karena reaksi
hipersensitivitas.
- Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping
itu telah diketahui, misalnya pirasinamid atau etambutol atau
streptomisin, maka pengobatan TB dapat diberikan lagi tanpa obat tersebut.
Bila mungkin, ganti obat tersebut dengan obat lain. Lamanya pengobatan
mungkin perlu diperpanjang, tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya
kambuh.
- Kadang-kadang, pada pasien timbul reaksi
hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid (INH) atau Rifampisin.
Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan
obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. Bila pasien
dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid (INH) dan atau
Rifampisin tersebut HIV negatif, mungkin dapat dilakukan desensitisasi.
Namun, jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif
sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat.[17]
G. Kendala Penanggulangan TB
Tuberculosis (TB) bukan tergolong
penyakit yang belum ditemukan obatnya, seperti kanker atau HIV/AIDS. Tapi
mengapa TB masih menjadi momok dan tergolong wabah paling mematikan di dunia?
Tuberculosis sebenarnya
bisa diobati dengan cara minum obat secara teratur minimum selama enam bulan.
Dengan minum kombinasi empat jenis obat antituberculosis (masih tergolong
antibiotik lini pertama) yaitu Rifampisin, Etambutol, Isoniazid (INH), dan
Pirazinamid. Paduan obat ini diberikan kepada pasien untuk membunuh empat
populasi bakteri tuberculosis dan memperkecil kemungkinan timbulnya bakteri
yang kebal obat atau multidrug resistant (TB MDR).
Tapi, disiplin meminum
obat selama enam bulan bukan perkara mudah. Sering kali pasien berhenti meminum
obat di tengah jalan, sehingga kuman TB dalam tubuhnya menjadi kebal terhadap
kelompok obat Tuberkulosis tertentu. Jika sudah demikian, akan dibutuhkan jenis
obat lainnya dan memerlukan waktu lebih lama, biaya lebih mahal lagi agar yang
bersangkutan bisa sembuh.
Putus obat menjadi
penyebab utama kegagalan terapi TB. Karena itu, pemerintah mengembangkan
program pengawasan minum obat (PMO) yang ada dalam strategi DOTS (Directly
Observed Treatment Short-course). Jika kepatuhan minum obat ditingkatkan,
keberhasilan terapi juga akan meningkat.[18]
Selain
putus minum berobat, kendala penanggulangan TB adalah stigma buruk terhadap
pasien TB. Sampai saat ini masih terjadi perlakuan yang buruk bagi penderita
Tuberkulosis. Sebagian masyarakat memperlakukan para penderita tidak
sebagaimana mestinya dengan mengucilkan, menjauhi dan lainnya. Untuk itu, stigma
negatif yang disematkan kepada penderita TB oleh masyarakat harus segera
dihilangkan. Penyakit TB bisa menyerang siapa saja dari semua golongan tanpa
memandang latar belakang penderita.
Berikut penyebab utama meningkatnya beban masalah TB
antara lain:
·
Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat.
o
Kegagalan program TB selama ini yang diakibatkan oleh:
1. tidak
memadainya komitmen politik dan pendanaan
2. tidak memadainya
organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus
/diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak
dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan sebagainya)
3. Tidak
memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar,
gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) - Salah persepsi terhadap
manfaat dan efektifitas BCG
4. Infrastruktur
kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau
pergolakan masyarakat.
·
Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk
dunia dan perubahan struktur umur kependudukan.
·
Dampak pandemi infeksi HIV.
[1] Departemen Kesehatan
RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, (Jakarta:
Depkes, 2008), Cet. Ke-2, hal. 5.
[2] Arif Mansjoer, Kapita Selekta
Kedokteran,
(Jakarta: Media Ausculapius, 2002), hal. 459.
[3]
Apri Lyanda, Rapid TB Test,
dalam Jurnal Tuberkolosis Indonesia, Vol. 8, edisi Maret 2012, hal. 12.
[4] Samsu
Rian, Pengaruh Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Terhadap Kerjadian
Default, tesis tidak diterbitkan, (Jakarta: Program Pasca Sarjana
Universitas Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2010), hal. 2.
[5]
Kementerian Kesehatan RI, Strategi
Nasional Penanggulangan TB Indonesia 2010-2014, (Jakarta: Kemenkes, 2011),
hal. 12.
[6] Departemen Kesehatan
RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, (Jakarta:
Depkes, 2002), hal. 9.
[7]
Departemen Kesehatan RI, Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, (Jakarta: Depkes RI, 2008). hal. 5.
[8]
Departemen Kesehatan RI, Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 5
[9]
Departemen Kesehatan RI, Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 5
[10]
Departemen Kesehatan RI, Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 13
[11]
Departemen Kesehatan RI, Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 3
[12]
Departemen Kesehatan RI, Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkolisis, (Jakarta: Depkes, 2005), hal. 29
[13]
Departemen Kesehatan RI, 2000, hal.
23-24.
[14]
Departemen Kesehatan RI, Pedoman
Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, 2002, hal. 37-38.
[15] Arif Mansjoer,
Kapita Selekta Kedokteran, (Jakarta: Media Aesculapius, 2002), hal. 473.
[16] Samsuridjal
Djauzi, Terapi Tuberkulosis Paru, dalam http://health.kompas.com/read/2013/03/10/03224485/Terapi.Tuberkulosis.Paru
diakses 16 Oktober 2013
[17] Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, (Jakarta:
Depkes, 2008), Edisi 2 Cetakan Kedua, hal.
36-37.
[18] Samsuridjal Djauzi, Terapi
Tuberkulosis Paru, dalam http://health.kompas.com/read/2013/03/10/03224485/Terapi.Tuberkulosis.Paru
diakses 16 Oktober 2013