Minggu, 06 April 2014

Pengertian Tuberkulosis

BAB II
SEKILAS TENTANG TUBERKULOSIS


A.  Pengertian Tuberkulosis 
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang ditularkan secara  langsung dari seorang penderita Tuberkulosis menular kepada orang lain yang sehat  dan disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Penularan kuman TB umumnya menyerang organ paru melalui percikan dahak penderita, dan selanjutnya dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.[1]
Pada kondisi daya tahan tubuh penderita menurun misalnya pada kondisi Gizi yang tidak memadai, pada penderita Diabitus Mellitus, pada perokok berat maka penyakit tuberkulosis akan menyebar secara sistemik atau melalui saluran getah bening dan dapat menyebar hampir semua organ tubuh, dengan persentase lokasi terbanyak di organ paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer Tuberkulosis.[2]
B.  Sejarah Perkembangan penemuan penyakit Tuberkulosis
Penyakit TB sudah ada sejak zaman purbakala. Hal ini dibuktikan melalui penemuan arkeologis Mesir, yang menemukan sisa tulang belakang manusia dengan tanda spondylitis-tubercolosa (jenis penyakit Tuberkulosis yang merusak kerangka tulang belakang) pada tahun 3700 SM dan pada mumi tahun 1000 SM dengan ciri penyakit yang sama. Pada waktu itu, Hippocrates berpendapat bahwa penyakit Tuberkulosis adalah penyakit keturunan. Selanjutnya Claudius Galenus ( AD 129 – 200 ) seorang dokter di zaman Romawi berpendirian bahwa TB adalah penyakit menular. Selama 15 abad kedua paham ini dianut berbagai ahli kedokteran.

Jean Antoine Villamin (28 Januari, 1827 – 6 Oktober 1892) seorang dokter, kelahiran Prey, Vosges, berkebangsaan Perancis pertama kali membuktikan secara ilmiah bahwa Tuberkulosis adalah penyakit menular namun pada waktu itu masih belum diketahui penyebabnya.

Robert Koch seorang ahli Bakteriologis Modern; berkebangsaan Jerman, pada tanggal 24 Maret 1882 menemukan basil yang disebut sebagai Mycobacterium Tuberkulosis dan termasuk penemu Vibrio Cholera dan Antrax. Hasil penemuaan yang terkenal sebagai ,,Postulat Koch’’ yang sampai sekarang menjadi dasar dalam penetapan diagnosis berdasarkan pendekatan mikrobiologis.

RenĂª Laennec seorang Dokter di Perancis, tahun 1819 menemukan stetoscop menjadikan pemeriksaan fisik hal penting dalam diagnosa klinis TB, hampir 70 tahun sebelum penemuan penyebab penyakit Tuberkulosis ditemukan oleh Robert Koch.

Wilhelhm Rontgen seorang ahli Fisika dari Jerman, pada tahun 1895 menemukan sinar X sehingga makin melengkapi diagnosis TB.  

Clemens Von Pirquet seorang berkebangsaan Ausria, tahun 1907 menunjukkan sarana diagnosis lain TB dengan uji tuberkulin. Penemuan Clemens Von Pirquet ini disempurnakan oleh Mantoux dan tekniknya distandarkan kemudian disebarluaskan, uji ini dikenal dengan nama Mantoux. Permulaan abad ke-20 semua sarana diagnosis TB sudah tersedia lengkap dan dipakai terus hingga sekarang. Penemuan sarana diagnosis baru untuk TB lebih ditekankan untuk diagnosis yang lebih cepat dan dapat dilakukan sendiri oleh dokter tanpa perlu tenaga ahli lain.[3]  
C.  Epidemologi Tuberkulosis
Walaupun pengobatan Tuberkulosis yang efektif sudah tersedia, tapi sampai saat ini TB masih tetap menjadi problem kesehatan dunia yang utama. Pada bulan Maret 1993 WHO mendeklarasikan penyakit Tuberkulosis sebagai global health emergency. Penyakit Tuberkulosis dianggap sebagai masalah penting karena lebih kurang 1/3 penduduk dunia terinfeksi oleh mikobakterium Tuberkulosis.
Pada tahun 1998 ada 3.617.047 kasus TB yang tercatat diseluruh dunia. Sebagian besar dari kasus TB ini (95%) dan kematiannya  (98%) terjadi di negara-negara yang sedang berkembang. Di antara mereka 75% berada pada usia produktif yaitu 20-49 tahun. Karena penduduk yang padat dan tingginya prevalensi maka lebih dari 65% kasus-kasus TB baru dan kematian yang muncul di Asia.[4]
Alasan utama yang muncul atau meningkatnya penyakit TB global ini disebabkan: 1) Kemiskinan pada berbagai penduduk, 2) Meningkatnya penduduk dunia, 3) Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi, 4) Tidak memadainya pendidikan mengenai penyakit TB, dan 5) Terlantar dan kurangnya biaya pendidikan.
Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya.[5]





D.  Kuman dan Penularan Tuberkulosis
1. Kuman Tuberkulosis
Kuman tuberkulosis (mycobacterium tuberculosis) berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai basil tahan asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.[6]

2. Penularan TB
a. Cara Penularan
Sumber penularan TB adalah penderita TB BTA Positif. Pada waktu bersin atau batuk, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam.
Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup ke saluran pernafasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari organ parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut.
Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.[7]

b. Risiko Penularan
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.
Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection  (ARTI)  yaitu  proporsi  penduduk  yang  berisiko  terinfeksi  TB  selama  satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.[8]
c. Risiko menjadi sakit TB
Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. Dengan  ARTI  1%,  diperkirakan  diantara  100.000  penduduk  rata-rata  terjadi  1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). Dan HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV  mengakibatkan  kerusakan  luas  sistem  daya  tahan  tubuh  seluler (Cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.[9]  Faktor risiko kejadian TB, secara ringkas digambarkan pada gambar berikut:

  

E.   Riwayat terjadinya Tuberkulosis.
1.      Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di Paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran linfe akan membawa kuman TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4 - 6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.
2.      Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.
3.      Gejala-Gejala Tuberkulosis
a.      Gejala utama
Gejala utama pada TB adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih.
b.      Gejala tambahan

Gejala tambahan yang sering dijumpai pada penderita TBC adalah : dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan.[10]
F.   Pencegahan Tuberkulosis
Karena yang menjadi sumber penyebaran TB adalah penderita TB itu sendiri, pengontrolan efektif TB mengurangi pasien TB tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TB saat ini, yaitu terapi dan imunisasi.
1.      Terapi
WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TB jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy).
Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung.
Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TB berikutnya. Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TB. Orang ini kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TB atau tidak. Sampai saat ini, diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop. Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik, sedangkan diagnosa secara molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan.
Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TB, dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien tersebut. Adapun obat TB yang biasanya digunakan adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, streptomycin, dan ethambutol. Untuk menghindari munculnya bakteri TB yang resisten, biasanya diberikan obat yang terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini.
Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses peminuman obat serta perkembangan pasien. Ini sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. Setelah minum obat TB biasanya gejala TB bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. Walaupun demikian, untuk benar-benar sembuh dari TB diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 6 bulan. Efek negatif yang muncul jika kita berhenti minum obat adalah munculnya kuman TB yang resisten terhadap obat. Jika ini terjadi, dan kuman tersebut menyebar, pengendalian TB akan semakin sulit dilaksanakan.

DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk menangani pasien TB saat ini, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah menerima perlakuan DOTS ini. Di Indonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87 persen pada tahun 2000. Angka ini melebihi target WHO, yaitu 85 persen, tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data WHO, untuk tahun 2001, tingkat deteksi hanya 21 persen, jauh di bawah target WHO, 70 persen. Karena itu, usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi.

2.      Imunisasi
Pengendalian penyakit Tuberkulosis yang kedua adalah dengan pemberian imunisasi atau pengebalan. Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyaki TB. Vaksin TB, yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Bakteri ini menyebabkan TB pada sapi, tapi tidak pada manusia. Vaksin ini dikembangkan pada tahun 1950 dari bakteri M tuberculosis yang hidup (live vaccine), karenanya bisa berkembang biak di dalam tubuh dan diharapkan bisa mengindus antibodi seumur hidup. Selain itu, pemberian dua atau tiga kali tidak berpengaruh. Karena itu, vaksinasi BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup. Di Indonesia, diberikan sebelum berumur dua bulan.
Imunisasi TB ini tidak sepenuhnya melindungi kita dari serangan TB. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar antara 70-80 persen. Karena itu, walaupun telah menerima vaksin, kita masih harus waspada terhadap serangan TB ini. Karena efektivitas vaksin ini tidak sempurna, secara global ada dua pendapat tentang imunisasi TB ini.
3.      Langkah Pencegahan
Upaya untuk mencegah penularan tuberkulosis dapat dilakukan langkah-langkah berikut:
  1. Mengobati pasien tuberkulosis paru BTA Positif sampai sembuh.
  2. Menganjurkan kepada penderita agar menutup mulut dengan sapu tangan bila batuk atau bersin, dan tidak meludah di sembarangan tempat.
  3. Peningkatan sosial ekonomi, misalnya : perbaikan perumahan dan lingkungan, peningkatan status gizi dan peningkatan pelayanan kesehatan.[11]
Sedangkan untuk mencegah terjadinya penyakit TB dapat dilakukan dengan cara:
a.      Meningkatkan status gizi
b.      Memberikan pengobatan, dengan dosis yang tepat
c.       Memberikan imunisasi BCG pada bayi; imunisasi BCG bertujuan untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberculosis.[12]
G. Klasifikasi Tuberkulosis dan Pengobatannya
1. Klasifikasi TB
Klasifikasi TB ada dua macam, yaitu: tuberkulosis paru dan tuberkulosis extra paru.
a.      Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru).
  1. Tuberkulosis extra paru
Tuberkulosis extra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.[13]

2. Pengobatan Tuberkulosis
Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan.

Adapun jenis dan dosis obat yang digunakan dalam pengobatan tuberkulosis adalah :
  1. Isoniasid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa hari pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang berkembang.
Dosis harian yang dianjurkan 5 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg / kg BB.
  1. Rifampisin (R)
Obat ini bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi dormant (persinten) yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid. Dosis 10 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg / kg BB.
  1. Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg / kg BB.
  1. Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis yang dianjurkan 15 mg / kg BB. Sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama. Untuk penderita sampai umur 60 tahun dosisnya 0,75 gr/hari, sedangkan untuk umur 60 tahun atau lebih diberikan 0,5 gr/hari.
  1. Etambutol (E)
Bersifat sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg / kg BB.[14]

3. Efek Samping Minum Obat

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) merupakan obat yang harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan pemberian OAT antara lain:
a.  Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid.
b.   Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi.
c.  Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis.[15]
Seperti obat lain, obat TB juga dapat menimbulkan efek samping. Namun, efek samping ini tidak terjadi pada semua orang yang minum obat TB. Efek samping hanya terjadi pada sebagian kecil pasien. Efek samping obat TB yang sering terjadi adalah alergi. Timbul gatal dan kemerahan setelah minum obat TB. Biasanya yang menyebabkan alergi hanya satu atau dua macam obat TB saja. Dokter dapat menelusuri obat mana yang menimbulkan alergi. Obat tersebut dihentikan dan dapat dicoba lagi dengan dosis rendah yang dinaikkan bertahap.

Efek samping yang juga cukup sering adalah gangguan fungsi hati. Penanganannya hampir serupa. Obat yang dicurigai dihentikan dulu, kemudian dimulai dosis rendah dan dinaikkan bertahap. Jika masih timbul kelainan hati, mungkin harus diganti dengan obat lain.[16]
Efek samping OAT dapat dibagi menjadi efek samping ringan dan berat dengan pendekatan gejala. Berikut tabel yang menjelaskan efek samping obat anti tuberkulosis.

Efek samping ringan
Efek samping
Penyebab
Penatalaksanaan
tidak ada nafsu makan, mual, sakit perut
Rifampisin
Semua OAT diminum malam sebelum tidur
Nyeri sendi
Pirasinamid
Beri aspirin
Kesemuatan s.d. rasa terbakar di kaki
INH
Beri vitamin B6 (piridoksin) 100mg per hari



Warna kemerahan pada air seni (urine)
Rifampisin
Tidak perlu diberi apa-apa, tapi perlu penjelasan kepada pasien

Efek samping berat
Efek samping
Penyebab
Penatalaksanaan
Gatal dan kemerahan kulit
Semua jenis OAT
Ikuti petunjuk penatalaksanaan di bawah*)
Tuli
Streptomisin
Streptomisin dihentikan
Gangguan keseimbangan
Streptomisin
Streptomisin dihentikan, ganti Etambutol
Ikterus tanpa penyebab lain
Hampir semua OAT
Hentikan semua OAT sampai ikterus menghilang
Bingung dan muntah-muntah (permulaan ikterus karena obat)
Hampir semua OAT
Hentikan semua OAT, segera lakukan tes fungsi hati
Gangguan penglihatan
Etambutol
Hentikan Etambutol
Purpura dan renjatan (syok)
Rifampisin
Hentikan Rifampisin

Penatalaksanaan pasien dengan efek samping “gatal dan kemerahan kulit”:
Jika seorang pasien dalam pengobatan OAT mulai mengeluh gatal-gatal singkirkan dulu kemungkinan penyebab lain. Berikan dulu anti-histamin, sambil meneruskan OAT dengan pengawasan ketat.
Gatal-gatal tersebut pada sebagian pasien menghilang, namun pada sebagian pasien malah menjadi suatu kemerahan kulit. Bila keadaan seperti ini, hentikan semua OAT. Tunggu sampai kemerahan tersebut menghilang. Jika gejala efek samping ini bertambah berat, pasien perlu dirujuk.

Pada unit pelayanan kesehatan rujukan (UPK Rujukan) penanganan kasus-kasus efek samping obat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  • Bila jenis obat penyebab efek samping itu belum diketahui, maka pemberian kembali OAT harus dengan cara “drug challenging” dengan menggunakan obat lepas. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan obat mana yang merupakan penyebab dari efek samping tersebut.
  • Efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Untuk membedakannya, semua OAT dihentikan dulu kemudian diberi kembali sesuai prinsip dechallenge-rechallenge. Bila dalam proses rechallenge yang dimulai dengan dosis rendah sudah timbul reaksi, berarti hepatotoksisitas karena reaksi hipersensitivitas.
  • Bila jenis obat penyebab dari reaksi efek samping itu telah diketahui, misalnya pirasinamid atau etambutol atau streptomisin, maka pengobatan TB dapat diberikan lagi tanpa obat tersebut. Bila mungkin, ganti obat tersebut dengan obat lain. Lamanya pengobatan mungkin perlu diperpanjang, tapi hal ini akan menurunkan risiko terjadinya kambuh.
  • Kadang-kadang, pada pasien timbul reaksi hipersensitivitas (kepekaan) terhadap Isoniasid (INH) atau Rifampisin. Kedua obat ini merupakan jenis OAT yang paling ampuh sehingga merupakan obat utama (paling penting) dalam pengobatan jangka pendek. Bila pasien dengan reaksi hipersensitivitas terhadap Isoniasid (INH) dan atau Rifampisin tersebut HIV negatif, mungkin dapat dilakukan desensitisasi. Namun, jangan lakukan desensitisasi pada pasien TB dengan HIV positif sebab mempunyai risiko besar terjadi keracunan yang berat.[17]

G. Kendala Penanggulangan TB
Tuberculosis (TB) bukan tergolong penyakit yang belum ditemukan obatnya, seperti kanker atau HIV/AIDS. Tapi mengapa TB masih menjadi momok dan tergolong wabah paling mematikan di dunia?
Tuberculosis sebenarnya bisa diobati dengan cara minum obat secara teratur minimum selama enam bulan. Dengan minum kombinasi empat jenis obat antituberculosis (masih tergolong antibiotik lini pertama) yaitu Rifampisin, Etambutol, Isoniazid (INH), dan Pirazinamid. Paduan obat ini diberikan kepada pasien untuk membunuh empat populasi bakteri tuberculosis dan memperkecil kemungkinan timbulnya bakteri yang kebal obat atau multidrug resistant (TB MDR).
Tapi, disiplin meminum obat selama enam bulan bukan perkara mudah. Sering kali pasien berhenti meminum obat di tengah jalan, sehingga kuman TB dalam tubuhnya menjadi kebal terhadap kelompok obat Tuberkulosis tertentu. Jika sudah demikian, akan dibutuhkan jenis obat lainnya dan memerlukan waktu lebih lama, biaya lebih mahal lagi agar yang bersangkutan bisa sembuh.
Putus obat menjadi penyebab utama kegagalan terapi TB. Karena itu, pemerintah mengembangkan program pengawasan minum obat (PMO) yang ada dalam strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Jika kepatuhan minum obat ditingkatkan, keberhasilan terapi juga akan meningkat.[18]
Selain putus minum berobat, kendala penanggulangan TB adalah stigma buruk terhadap pasien TB. Sampai saat ini masih terjadi perlakuan yang buruk bagi penderita Tuberkulosis. Sebagian masyarakat memperlakukan para penderita tidak sebagaimana mestinya dengan mengucilkan, menjauhi dan lainnya. Untuk itu, stigma negatif yang disematkan kepada penderita TB oleh masyarakat harus segera dihilangkan. Penyakit TB bisa menyerang siapa saja dari semua golongan tanpa memandang latar belakang penderita.
Berikut penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain:
·         Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat.
o   Kegagalan program TB selama ini yang diakibatkan oleh:
1.      tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
2.      tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan sebagainya)
3.      Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) - Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG
4.      Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.
·         Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan.
·         Dampak pandemi infeksi HIV.




[1]    Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, (Jakarta: Depkes, 2008), Cet. Ke-2, hal. 5.
[2]    Arif Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran, (Jakarta: Media Ausculapius, 2002), hal. 459.
[3]    Apri Lyanda, Rapid TB Test, dalam Jurnal Tuberkolosis Indonesia, Vol. 8, edisi Maret 2012, hal. 12.
[4]     Samsu Rian, Pengaruh Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Terhadap Kerjadian Default, tesis tidak diterbitkan, (Jakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2010), hal. 2.
[5]    Kementerian Kesehatan RI, Strategi Nasional Penanggulangan TB Indonesia 2010-2014, (Jakarta: Kemenkes, 2011), hal. 12.
[6]    Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, (Jakarta: Depkes, 2002), hal. 9.
[7]    Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, (Jakarta: Depkes RI, 2008). hal. 5.
[8]    Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 5
[9]    Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 5
[10]   Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 13
[11]   Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, hal. 3
[12]   Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolisis, (Jakarta: Depkes, 2005), hal. 29
[13]  Departemen Kesehatan RI, 2000, hal. 23-24.
[14]   Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis, 2002, hal. 37-38.
[15]   Arif Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran, (Jakarta: Media Aesculapius, 2002), hal. 473.
[16] Samsuridjal Djauzi, Terapi Tuberkulosis Paru, dalam http://health.kompas.com/read/2013/03/10/03224485/Terapi.Tuberkulosis.Paru diakses 16 Oktober 2013

[17]    Departemen Kesehatan RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, (Jakarta: Depkes, 2008),  Edisi 2 Cetakan Kedua, hal. 36-37.
[18] Samsuridjal Djauzi, Terapi Tuberkulosis Paru, dalam http://health.kompas.com/read/2013/03/10/03224485/Terapi.Tuberkulosis.Paru diakses 16 Oktober 2013